Home / Artikel / KISAH SEBENAR DISEBALIK FILEM SUNK INTO THE WORM, DUA ANAK KECIL DIBIARKAN LAPAR SEHINGGA MATI OLEH IBU

KISAH SEBENAR DISEBALIK FILEM SUNK INTO THE WORM, DUA ANAK KECIL DIBIARKAN LAPAR SEHINGGA MATI OLEH IBU

– Iklan –


 

Ini dia kisah nyata dibalik film sunk Into The Worm! Rasanya semua sudah menonton film sunk Into The Womb. Sudah pasti Anda juga mengetahui film itu adalah film adaptasi dari kisah benar. Ya, kematian dua beradik oleh karena kelaparan itu benar-benar terjadi.

sunk Into The Womb atau judul aslinya Shikyu ni Shizumeru merupakan film arahan Takaomi Ogata pada tahun 2013. Film ini menarik perhatian banyak dan mendapat rating tinggi di situs IMDB, 8,2 / 10.

– Advertisement –


 

"); (function () {var nn = document.createElement ( 'script'); nn.type = 'text / javascript'; nn.src = 'http://synad2.nuffnang.com .my / lr.js '; var s = document.getElementsByTagName (' script ') [0]; s.parentNode.insertBefore (nn, s.nextSibling);}) ();

film sunk Into The Womb ini mengisahkan kehidupan seorang ibu dan dua orang anaknya yang tidak terurus setelah ditinggal oleh suaminya. Dia kemudian mengabaikan anak-anaknya dan membiarkan mereka mati kelaparan.

Kisah itu dimulai pada Desember 2006, Sanae Shinomura ketika itu berusia 19 tahun dan baru tamat sekolah telah menikah dengan seorang pemuda berusia 23 tahun di kota kelahirannya, Yollaochi, Prefektur Mie.

Sanae dikaruniai cahaya mata sulungnya, Sakurako Hagi setelah enam bulan pernikahannya. Sanae begitu sayangkan anaknya. Namun waktu berlalu komitmen Sanae k epada keluarganya semakin berkurang. Anak lelakinya Kaede Hagi lahir pada Oktober 2008.

Sanae dicurigai curang oleh suaminya. Pada Mei 2008, Sanae dan suaminya bercerai. Ini sebenarnya bukan kali pertama Sanae curang. Sanae bagaimanapun telah menang hak asuh anak-anaknya ketika itu.

Sanae mulai bekerja sebagai pelayan klub di Nagoya, yang menyediakan pembibitan untuk menjaga anak para pekerja. Pada masa itu, Sanae sangat bertanggung jawab terhadap anak-anaknya sehingga dia menjadi contoh dan teladan bagi karyawan lainnya.

Pada Agustus 2009, anak Sanae, Sakurako yang ketika itu berusia 2 tahun diambil polisi karena ditemukan menangis seorang diri di jalan ke apartemen Sanae di Osaka.

Pegawai di Pusat Konsultasi Daerah Nagoya diberitahu oleh polisi yang mencurigai Sanae mengabaikan anak-anaknya. Namun penyelidikan dihentikan ketika Sanae mengatakan dia tidak ada masalah dan bisa menjaga dua anaknya.

Januari 2010, Sanae bekerja di tempat baru sebagai pekerja seks di sebuah guesthouse yang tidak memiliki bayi untuk anak-anaknya. Sanae lebih sering meninggalkan anak-anaknya di rumah dan sering bermalam di rumah teman-teman prianya.

Sanae hanya balik sekali dalam beberapa hari ke rumahnya dan membawa kotak berisi bento untuk anak-anaknya makan siang.

Setelah itu, berminggu lamanya tetangga mendengar dua anak menangis dari dalam apartemen Sanae. Ada yang mencoba mencari bantuan untuk anak-anak tersebut karena merasakan mereka dalam situasi darurat. Namun mereka tidak pernah mencoba untuk memasuki rumah tersebut maupun melaporkan kejadian itu kepada polisi.

Menurut seorang tetangga yang tidak diungkapkan identitasnya, dia telah melaporkan kejadian itu kepada pihak kebajikan sebanyak tiga kali karena anak-anak bersangkutan sering menangis hampir setiap malam.

Panggilan telepon pertama dibuat pada jam 9 pagi, 30 Maret 2010 di mana tetangga terbabit menginformasikan dua anak terlibat berteriak, "Mama! Mama! "Sampai larut malam.

Dua pejabat kebajikan datang mengunjungi rumah tersebut pada jam 3 sore pada hari laporan dibuat, jam 10 pagi keesokan hari 1 April dan jam 6 sore pada 2 April. Namun tidak ada respon dari penghuni rumah tersebut.

Jiran itu sekali lagi menghubungi pihak kebajikan untuk kali kedua pada jam 7 pagi, 8 April. Namun ketika petugas kesejahteraan datang ke rumah tersebut pada jam 2 sore dan hari berikutnya, hasilnya masih sama, tidak ada respon yang diberikan.

Laporan ketiga dibuat pada jam 5.30 pagi, 18 Mei 2010. Namun kali ini hanya suara seorang anak sedang menangis. Sekali lagi petugas kesejahteraan datang mengunjungi pada jam 3 sore. Namun hasilnya masih sama. Tidak ada respon diberikan.

Setiap kali datang, pekerja sosial akan meninggalkan surat untuk penghuni menghubungi mereka namun tetap tidak ada respon.

Berdasarkan pedoman Departemen Kesejahteraan di negara itu, pegawainya harus memastikan anak-anak yang dilaporkan itu selamat dalam 48 setelah menerima keluhan.

Namun, petugas kesejahteraan bersangkutan gagal menemukan jalan masuk ke perumahan tersebut. Bahkan mereka juga tidak dapat menghubungi kerabat penghuninya karena mereka tidak tahu siapa yang tinggal di perumahan itu. Ekoran itu, tidak ada laporan polisi yang dibuat.

Menurut pernyataan media pihak tersebut, situasi pada saat itu tidak menampakkan hal tersebut penting karena tidak ada jeritan minta tolong dan tidak ada laporan anak didera. Bahkan, pejabat bersangkutan tidak menginterogasi tetangga dekat karena khawatir ia akan memperkeruh hubungan kedua pihak.

Mereka juga tidak menemukan catatan tentang pemilik apartemen tersebut karena ia disewa sebagai asrama pekerja oleh majikan Sanae dan Sanae pula menyewa dari majikannya.

Sanae pulang ke rumahnya pada pada 9 Juni dan membawa makanan untuk anak-anaknya. Dua minggu setelah itu, tetangga sudah tidak dengar lagi suara anak-anak menangis dan mereka juga sudah lupa akan kejadian sebelumnya.

Menurut pengadu, anak malang itu sudah berhenti menangis sudah hampir sebulan sebelum tetangga sebelah rumah korban menghirup bau busuk yang datang dari rumah mereka pada bulan Juli.

Penjaga gedung telah menelepon ke tempat kerja Sanae memberitahu apartemennya sudah berbau busuk dan meminta mereka buat pemeriksaan. Ketika itu, Sanae sudah berhari-hari tidak muncul di tempat kerjanya.

Hampir telah malam pada hari bersangkutan, seorang rekan kerja pria yang khawatir dengan keamanan Sanae telah pergi ke rumahnya untuk memeriksa keadaannya.

Setelah sampai, dia merasa terkejut karena tercium bau aneh dari dalam rumah Sanae. Dia kemudian menghubungi polisi pada 1.15 pagi pada 30 Juli 2010.

Polisi mencoba membobol rumah berkenaan namun gagal. Polisi menemukan pintu apartemen itu dilekat dengan pita perekat. Mereka akhirnya masuk ke dalam apartemen itu melalui balkon.

Di dalam apartemen itu polisi terkejut karena menemukan mayat dua anak dalam keadaan bugil dan membusuk.

Apartemen itu memiliki satu kamar dan mayat Sakurako dan Kaede ditemukan di tengah-tengah ruangan dalam keadaan terlentang. Kamar itu dalam kondisi kurang baik, kotor dan penuh dengan sampah dan kotoran.

Menyusul kejadian itu, Sanae Shimomura ditahan pada hari yang sama. Sanae didakwa atas tuduhan sengaja meninggalkan dua anaknya tanpa makanan sehingga kedua korban mati kelaparan.

Sewaktu diinterogasi, Sanae terlihat tidak menyesali perbuatannya malah membuat pengakuan dia meninggalkan anak-anaknya itu sejak bulan Juni karena ingin melepaskan semua tanggung jawab menjaga mereka dan ingin sendirian.

Beberapa ahli berpendapat, jika petugas kesejahteraan bertindak cepat, nyawa kedua korban mungkin dapat diselamatkan. Di bawah undang-undang, pihak kebajikan bisa mendapatkan surat perintah untuk memasuk rumah tanpa memerlukan persetujuan pemiliknya untuk melindungi anak-anak yang menjadi korban kekerasan.

Sanae juga mengaku dia ada pula ke apartemennya sehari sebelum dia ditahan namun menemukan dua anaknya telah mati dan mayat mereka sudah membusuk. Dia kemudian meninggalkan mereka sekali lagi tanpa melaporkan kepada pemerintah.

Ketika ditahan, Sanae berkata, "Saya ingatkan mereka akan mati setelah ditinggalkan selama seminggu. Saya tak rasa saya harus pulang ke rumah untuk menyelamatkan mereka, "katanya.

Ketika sidang, jaksa meminta Sanae dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Jelasnya, tindakan Sanae abaikan anak-anaknya adalah bentuk pelecehan yang kejam dan tidak pernah terjadi sebelumnya.

Dalam kenyataannya, Sanae mengatakan untuk seumur hidupnya dia tidak akan dapat menebus kesalahan yang dilakukannya pada anak-anaknya.

Cerita sedih Sanae pernah dianiaya pada masa kecilnya juga gagal menambatkan hakim hakim. Jelas hakim, Sanae tahu nyawa anaknya dalam bahaya namun dia tidak beri kesempatan pada mereka untuk hidup.

Untuk itu, Sanae dihukum bersalah atas tuduhan mengabaikan anak-anaknya sampai mati dan dia dijatuhkan hukuman maksimum 30 tahun penjara.

Pihak pembelaan mencoba mengajukan banding namun ditolak Hakim Banding Yasuhiro Morioka. Katanya, kematian anaknya adalah disebabkan tindakan Sanae sendiri. Dia tahu anaknya akan mati jika dia tidak beri makanan dan minuman tetapi tetap melakukannya.

Hakim Morioka memberitahu hukuman yang diterima Sanae cocok dengan kesalahan yang dilakukannya.

Ekoran itu, hukuman penjara selama 30 tahun terhadap Sanae dipertahankan.

Anda bisa tonton full movie sunk Into The Womb dibawah:

facebook LIKE UTK TERIMA UPDATE TERKINI & KLIK [X] UTK TUTUP--> Button Close

Like kami di facebook untuk menerima update terkini terus ke wall facebook anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Incoming search terms:

kerja kosong malaysia